Label

Sabtu, 05 Juni 2010

PROBLEMATIKA BIMBINGAN DAN KONSELING

PROBLEMATIKA BIMBINGAN DAN KONSELING


PENDAHULUAN
Penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah, menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik yang selanjutnya disebut konseli, agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual). Dan sudah menjadi keniscayaan apabila dijumpai problematika yang mewarnai proses pelaksanaan yang melibatkan banyak hal. Akan tetapi dalam hal ini hanya akan dibahas problematika atau permasalahan yang menyangkut: kelembagaan/bimbingan dan konseling itu sendiri, peserta didik (konseli/lee) dan konselor.
KESALAHPAHAMAN DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING 1. Bimbingan dan konseling disamakan saja dengan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan. 2. Konselor di sekolah dianggap sebagai polisi sekolah 3. Bimbingan dan konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasehat 4. Bimbingan dan konseling dibatasi pada hanya menangani masalah yang bersifat incidental 5. Bimbingan dan konseling dibatasi hanya untuk klien- kliean tertentu saja. 6. Bimbingan dan konseling melayani “orang sakit” dan/atau “kurang normal” 7. Bimbingan dan konseling bekerja sendiri 8. Konselor harus aktif, sedangkan pihak lain pasif
9. Bimbingan dan konseling berpusat pada keluhan pertama saja 10. Menganggap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakuka oleh siapa saja 11. Menyamakan pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter atau psikiater 12. Menganggap hasil pekerjaan bimbingan dan konseling harus segera dilihat 13. Menyamaratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien 14. Memusatkan usaha bimbibingan dan konseling hanya pada penggunaan instrumentasi dan konseling (misalnya tes, inventori, angket, dan alat pengungkap lainnya) 15. Bimbingan dan konseling dibatasi pada hanya menangani masalah- masalah yang ringan saja
B. MASALAH SISWA di SEKOLAH dan MADRASAH 1. Perkembangan individu 2. Perbedaan individu, dalam hal: kecerdasan, kecakapan, hasil belajar, bakat, sikap, kebiasaan, pengetahuan, kepribadian, cita-cita, kebutuhan, minat, pola-pola dan tempo perkembangan, cirri-ciri jasmaniyah dan latar belakang lingkungan. 3. Kebutuhan individu, dalam hal: memperoleh kasih sayang, harga diri, penghargaan yang sama, prestasi dan posisi, ingin dikenal, untuk dibutuhkan orang lain, merasa bagian dari kelompok, rasa aman dan perlindungan, dan unruk memperoleh kemerdekaan diri. 4. Penyesuaian diri dan kelainan tingkah laku 5. Masalah belajar.
M. Hamdan Bakran Adz-Dzaky (2004) mengklasifikasikan masalah individu, termasuk siswa, sebagai berikut: 1. Masalah individu yang berhubungan dengan Tuhannya 2. Masalah individu yang berhubungan dengan dirinya sendiri 3. Masalah individu yang berhubungan dengan lingkungan keluarga 4. Masalah individu yang berhubungan dengan lingkungan kerja 5. Masalah individu yang berhubungan dengan lingkungan sosial
C. PETUGAS BIMBINGAN dan KONSELING di SEKOLAH dan MADRASAH
Profesional

Beberapa kelebihan dalam tipe ini adalah:
a. Petugas BK dapat mencurahkan perhatian sepenuhnya dalam pelayanannya. Dan secara umum ini lebih efektif dan efisien.
b. Peserta didik yang mempunyai masalah-masalah tertentu bisa lebih mudah untuk terbuka kepada petugas BK, karena tidak terkait dengan proses penilaian akademik.
Adapun diantara kelemahannya adalah:
a. Petugas bisa mengalami kesulitan untuk mengetahui secara detail masalah yang dialami peserta didik.
b. Terkadang petugas mengalami komunikasi yang kaku dengan klien karena frekuensi pertemuan dan komunikasi yang kurang intensif sebagaimana teacher counselor.
2. Non Profesional a. Guru wali kelas yang juga diserahi tugas dan tanggung jawab Sebagai petugas atau guru BK. Maka di sini dia mempunya tugas rangkap. Adapun alasan yang digunakan untuk mengangkatnya sebagai petugas BK adalah karena wali kelas dianggap dekat dengan siswanya sehingga wali kelas dapat dengan mudah mengetahui berbagai persoalan siswanya. b. Guru pembimbing, yaitu seorang guru yang selain memegang mata pelajaran tertentu, terlibat juga dalam pelayanan bimbingan dan konseling, yang disebut juga part time teacher and part time counselor. Guru BK yang seperti ini juga memiliki tugas rangkap. Guru mata pelajaran yang diserahi tugas dan tanggung jawab sebagai guru BK misalnya guru agama, guru PPKN, dan guru-guru lain terutama yang tidak memiliki jam pelajaran. c. Guru mata pelajaran tertentu yang diserahi tugas khusus menjadi petugas BK. Petugas BK ini tidak merangkap tugas. Tugas dan tanggung jawab pokoknya adalah memberikan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa. d. Kepala sekolah/madrasah yang bertanggung jawab atas sekurang-kurangnya 40 orang siswa. Pertimbangan penetapan tenaga bimbingan pola ini di sekolah dan madrasah adalah kepala sekolah/madrasah berasal dari jabatan fungsional (guru), sedangkan jabatan kepala sekolah/madrasah adalah structural. Agar fungsinya sebagai pejabat fungsional tidak tanggal, maka kepala sekolah/madrasah biasanya diserahi tugas dan tanggung jawab membimbing 40 siswa.
D. KONSELOR DAN PERMASALAHANNYA
Seorang konselor sekolah hendaklah profesional dalam menjalankan tugas. Pelayanan BK di sekolah lebih menekankan pada cinta kasih. Dengan cinta kasih seorang konselor akan lebih empatik kepada siswanya. Relasi yang baik, hangat dan penuh penerimaan antara siswa dengan konselor sekolah akan memudahkan siswa untuk lebih memahami diri dan kondisi lingkungan dirinya dan lebih mudah mengambil keputusan dalam hidupnya demi kebaikan dirinya sendiri. Para siswa harus ditangani oleh konselor yang sungguh profesional dalam bidangnya karena di dalam konseling memiliki asas kerahasiaan, asas kesukarelaan, asas keterbukaan, asas kenormatifan, dll. Konselor sekolah hendaknya mentaati aturan-aturan dalam memberikan pelayanan bimbingan dan konseling yang terdapat dalam kode etik keprofesian sebagai seorang guru BK.
Konselor juga manusia. Ini berarti bahwa konselor juga bisa mengalami masalah yang dialami oleh orang lain. Masalah tersebut bisa berupa masalah manusiawi, seperti jenuh, stress, bosan dll. Oleh karena itu, sebaiknya konselor tidak menangani masalah lebih dari tiga kasus dalam satu hari. Masalah lain yang biasanya dialami oleh konselor berkaitan dengan kompetensi diri menjadi seorang konselor. Ada beberapa hal yang harus dihindari oleh konselor, diantaranya adalah: 1. Bicara satu arah dari konselor/mendominasi konseling sibuk dengan penggalian masalah/peristiwa traumatis konselee 2. Tidak menunjukkan empati&kepedulian 3. Terkesan menasehati, menggurui, mengarahkan konselee. 4. Terkesan menyalahkan dan menyudutkan konselee 5. Menentukan jalan keluar pada permasalah konselee 6. Mengambil jarak dan memperlakukan konselee seperti pasienmenggunakan bahasa yang sulit dimengerti 7. Menampilkan sikap/gerak tubuh yang membuat konselee tidak nyaman, seperti cemberut, ngantuk, jaga jarak, acuh tak acuh dll. 8. Menganggap konselee sebagai individu yang tidak berdaya 9. Menciptakan ketergantungan konselee pada konselor, dll.
KESIMPULAN
Bimbingan dan konseling yang melibatkan lembaga konseling, konselor dan konselee ini, tentu tidak lepas dari pengaruh dinamisasi ruang dan waktu kehidupan yang senantiasa menawarkan perubahan. Oleh karenanya, agar bimbingan dan konseling ini senantiasa efektif dan berkembang lebih baik, maka ke tiga unsure yang ada dalam konseling tersebut harus senantiasa ditinjau ulang, baik secara teori maupun praktik. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalisir kesalahpahaman pemaknaan yang tentu saja akan berdampak pada praktiknya.
Banyaknya problem yang terjadi dalam konseling, problematika konselor dan konselee kebanyakan lahir dari ketidakpahaman yang mendalam tentang konseling. Oleh karena itu, image ketiga unsure konseling harus benar-benar dibangun kembali menjadi lembaga yang benar-benar nyaman untuk sharing yang solutif berbagai macam masalah yang dihadapi peserta didik.
Ketiga unsure di atas bukanlah hal yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling terkait antara satu dan yang lain. Maka, semuanya harus dipahami secara utuh agar pelaksanaanya bisa optimal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar